Kebijakan Impor Daging Ungas dari Brazil Dinilai Hanya Untungkan Importir

JAKARTA (Translog News) – Wacana Pemerintah untuk membuka kembali keran impor daging ayam dari Brazil mendapat penolakan dari bebagai pihak.

Sebeb, kebijakan impor daging ayam dari Brazil bukan hanya mematikan industri/peternak lokal, selain itu juga akan berdampak pada menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.

“Salah satunya, daging impor dari Brazil dipertanyakan kehalalannya. Sementara itu, mayoritas konsumen Indonesia merupakan umat Islam yang terbesar di dunia. Jangan sampai Pemerintah terjebak pada kepentingan kapital, tanpa mengindahkan kultur konsumen,” ucap pengamat kebijakan administrasi publik Dr Bambang Istianto kepada wartawan, Sabtu (17/8/2019).

Dari sisi kebijakan, lanjut Bambang, seharusnya Pemerintah lebih fokus kepada peningkatan produksi dalam negeri. Dan mendorong petani menaikan produktivitas yang dipasarkan di tingkat konsumen di tanah air.

Padahal, impor merupakan upaya stabilisasi atau mengatur supply and demand. Akan tetapi para importir/eksportir kecenderungannya monopoli atau oligopoli, pada akhirnya pebisnis mengambil keuntungan yang tak terkendali. Sehingga pemerintah sulit untuk mengontrol.

“Pada gilirannya, peternak yang dirugikan. Kalau itu terjadi, maka akan terjadi corporate state, yang hanya menguntungkan kelompok tertentu. Jangan berpijak pada harga murah, akan tetapi mematikan peternak dalam negeri,” tandas Bambang.

Bambang mengungkapkan, sepertinya kebijakan Pemerintah terkait dengan menurunkan harga daging ayam hanya lip service saja.

“Karena, pelaku impor yang bermain orangnya itu-itu saja. Sementara pemerintah sepertinya tidak berdaya karena masing-masing individu (Pemerintah) masih berharap keuntungan personal,” jelasnya.

Bambang menambahkan, kalau Pemerintah mau membantu, kenapa bukan peternak dalam negri yang dikembangkan. “Kalau ada kekurangan atau kelemahan ya segera ditindaklanjuti sementara yang kurang bagus segera diambil tindakan, bukan diberikan bibit day old chicken (DOC),” katanya.

Sebelumnya, Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (Arphuin) menolak rencana pemerintah yang hendak membuka keran impor daging ayam dari Brasil. Pemerintah mengambil langkah itu karena kalah di sidang sengketa World Trade Organization (WTO) dari Brasil.

 “Arphuin menolak keras rencana pemerintah untuk impor daging ayam dari Brazil,” ujar Kepala Bidang Hukum dan Humas Arphuin Cecep M Wahyudin dalam keterangan resminya, Jumat (16/8/2019).

Cecep mengatakan, impor ayam Brasil ini berpotensi besar dalam penyaluran ayam dari peternak dalam negeri hingga mengarah pada kehancuran.

“Berbagai elemen pelaku perunggasan menyatakan kekhawatirannya terhadap situasi ini sebab berpotensi besar menghancurkan peternakan unggas rakyat,” kata Cecep.

Menurutnya, peternak unggas Indonesia sudah mampu menyuplai kebutuhan daging ayam yang berkualitas dan tentunya halal untuk masyarakat.

Tentunya, kata Cecep, kebutuhan daging ayam di Indonesia sendiri harus sesuai dengan latar belakang masyarakat Indonesia yang sebagian besar muslim, yakni membutuhkan daging ayam yang halal. Cecep mengungkapkan, seluruh peternak yang tergabung dalam Arphuin sudah mengantongi sertifikat halal.

“Seluruh anggota Arphuin mampu menyuplai kebutuhan daging ayam yang aman, sehat, utuh dan halal bagi seluruh masyarakat Indonesia. Seluruh rumah potong ayam (RPA) anggota Arphuin telah tersertifikasi halal dengan dilengkapi nomor kontrol veteriner dan memperhatikan aspek-aspek dari higienitas dan keamanan pangan. Selain itu, seluruh anggota Arphuin sangat memperhatikan sistem rantai dingin mulai dari fasilitas produksi hingga ke pelanggan atau konsumen,” terang Cecep.

Ia juga menyatakan, Indonesia telah melakukan swasembada dalam produksi karkas ayam (ayam potong utuh). Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, potensi produksi karkas ayam sebanyak 3,38 juta ton yang diproyeksikan mumpuni untuk kebutuhan konsumsi sebanyak 3,05 juta ton.

“Indonesia telah swasembada dalam produksi karkas ayam. Berdasarkan data BPS, potensi produksi karkas ayam pada 2018 adalah 3,38 juta ton sementara proyeksi kebutuhannya hanya di angka 3,05 juta ton,” papar dia.

Oleh karena itu, ia menuturkan bahwa impor ayam Brasil ini tidak dibutuhkan. Selain itu, ia menganggap impor ayam Brasil ini pun tidak memberikan multiplier effect bagi perekonomian Indonesia.

“Artinya, impor daging ayam Brazil tidak diperlukan. Tak hanya itu, daging ayam impor juga tidak memberikan multiplier effect bagi perekonomian Indonesia,” pungkasnya. (red)